CIREBON – Rencana pembongkaran Rel Kereta Api Tua di samping Jembatan Kalibaru di Kota Cirebon menuai sorotan dari berbagai kalangan. Ketua Generasi Muda Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI–Polri (GM FKPPI) Kota Cirebon, M. Dany Jaelani, menilai pemerintah tidak boleh tergesa-gesa mengambil keputusan tanpa kajian menyeluruh terkait nilai sejarah dan budaya yang melekat pada jembatan tersebut.
Menurut Dany, sebelum langkah pembongkaran dilakukan, pemerintah seharusnya terlebih dahulu melakukan penelitian komprehensif mengenai latar belakang sejarah, fungsi, serta nilai arsitektur Jembatan Kalibaru yang selama ini menjadi bagian dari wajah Kota Cirebon.
“Setiap objek yang memiliki potensi nilai sejarah harus dikaji secara serius. Jangan sampai kita kehilangan jejak peradaban hanya karena keputusan yang terburu-buru,” ujar Dany pada sabtu (3/4/2026).
Ia menegaskan, terdapat sejumlah langkah penting yang seharusnya dilakukan pemerintah sebelum menetapkan kebijakan pembongkaran. Di antaranya melakukan penelitian sejarah secara mendalam, dokumentasi menyeluruh, serta konsultasi dengan para ahli sejarah dan budaya.
Selain itu, pemerintah juga diminta mempertimbangkan berbagai alternatif yang memungkinkan objek asli tetap dipertahankan, sehingga nilai historis yang dimiliki Jembatan Kalibaru tidak hilang.
Dany juga mendorong agar pemerintah membuka ruang dialog dengan berbagai pihak yang memiliki pemahaman tentang sejarah jembatan tersebut. Menurutnya, perspektif dari masyarakat yang mengetahui perjalanan Jembatan Kalibaru akan memberikan gambaran yang lebih objektif.
“Pemerintah bisa menggelar diskusi atau wawancara dengan sejarawan lokal, masyarakat sekitar yang mengetahui sejarah jembatan, serta ahli arsitektur maupun konservasi bangunan. Dengan begitu, informasi yang diperoleh akan lebih lengkap dan akurat,” ucapnya.
Lebih jauh, Dany menilai Jembatan Kalibaru memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai ikon wisata sejarah di Kota Cirebon.
Dengan karakter arsitektur yang unik serta cerita sejarah yang melekat, jembatan tersebut dinilai dapat menjadi daya tarik baru bagi wisatawan.
Ia mencontohkan bagaimana bangunan lama seperti Tower Air di Pekalongan yang berhasil dihidupkan kembali menjadi objek wisata setelah melalui proses pelestarian dan penataan yang tepat.
“Jika ada kemauan dari pemerintah, Jembatan Kalibaru bisa dikembangkan seperti itu. Tidak hanya dilestarikan, tetapi juga menjadi destinasi wisata yang memperkuat identitas kota,”paparnya.
Menurutnya, pelestarian bangunan bersejarah tidak hanya berkaitan dengan status cagar budaya semata, tetapi juga menyangkut identitas dan kearifan lokal masyarakat Cirebon. Karena itu, ia berharap pemerintah mempertimbangkan langkah restorasi atau integrasi Jembatan Kalibaru dalam rencana pengembangan kawasan Kota Tua Cirebon, sehingga keberadaannya tetap terjaga sekaligus memberi nilai ekonomi bagi masyarakat.
“Peradaban dan kearifan lokal Cirebon harus dijaga. Jangan sampai warisan sejarah kita hilang begitu saja. Justru dengan pelestarian yang baik, itu bisa menjadi kekuatan ekonomi sekaligus kebanggaan kota,” pungkasnya.












