CIREBON– Di tengah merebaknya isu kelangkaan batu bara yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan listrik nasional, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Cirebon justru memastikan operasional pembangkit tetap berjalan normal.
Saat sejumlah pembangkit listrik di berbagai daerah dikabarkan menghadapi tekanan pasokan bahan bakar, PLTU Cirebon menyatakan stok batu bara untuk dua unit pembangkitnya masih aman dan mampu menopang kebutuhan energi masyarakat.
Kepastian itu menjadi kabar menenangkan di tengah perdebatan mengenai kondisi pasokan batu bara nasional yang belakangan ramai diperbincangkan.
Sebagai salah satu pembangkit listrik terbesar di Pulau Jawa dengan kapasitas total mencapai 1.660 megawatt (MW), PLTU Cirebon memastikan produksi listrik dan pasokan energi ke PLN tetap berjalan lancar.
Head of Communication Cirebon Power, Yuda Panjaitan mengatakan, hingga saat ini tidak ada gangguan terhadap operasional pembangkit.
Pasokan batu bara masih terus datang secara berkala dari para pemasok sehingga kebutuhan bahan bakar untuk produksi listrik tetap terpenuhi.
“Kami di Cirebon Power, yang mengoperasikan dua pembangkit listrik yaitu pembangkit pertama berkapasitas 660 Megawatt dan pembangkit kedua berkapasitas 1.000 Megawatt. Sampai hari ini pasokan batu bara kami masih terjaga dan kami masih bisa beroperasi secara normal, dan bahkan kita berupaya secara optimal untuk tetap bisa memproduksi energi untuk mendukung kebutuhan energi masyarakat,” ujar Yuda saat diwawancarai media, Jumat (12/6/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat pasokan listrik dari PLTU Cirebon ke PLN tetap stabil dalam satu bulan terakhir.
Aktivitas produksi energi berlangsung normal dan mampu memenuhi target kebutuhan listrik yang telah ditetapkan.
Yuda menegaskan, meskipun muncul isu kelangkaan batu bara di sejumlah daerah, kondisi tersebut tidak berdampak terhadap operasional pembangkit yang dikelola Cirebon Power.
Ketersediaan stok batu bara masih berada pada level yang aman dan sesuai kebutuhan produksi.
PLTU Cirebon sendiri memiliki peran strategis dalam sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali (Jamali).
Berlokasi di Desa Kanci Kulon, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, pembangkit ini menjadi salah satu tulang punggung pasokan listrik nasional dengan dua unit pembangkit berkapasitas 660 MW dan 1.000 MW.
Keberadaan pembangkit tersebut menjadi semakin penting di tengah meningkatnya kebutuhan energi nasional dan munculnya kekhawatiran terkait pasokan batu bara.
Isu kelangkaan batu bara mencuat setelah adanya penyesuaian target produksi nasional dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 yang disebut turun dibanding tahun sebelumnya.
Selain itu, sejumlah pelaku industri menilai gangguan rantai pasok dan ketidakpastian kuota produksi turut memengaruhi distribusi batu bara ke beberapa pembangkit listrik.
Kondisi tersebut bahkan sempat memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan pasokan listrik di berbagai wilayah.
Meski demikian, Cirebon Power memastikan masyarakat tidak perlu panik.
Hingga saat ini, pasokan listrik yang disalurkan ke PLN tetap berjalan tanpa hambatan dan tidak terdapat indikasi gangguan pelayanan kelistrikan yang berasal dari operasional PLTU Cirebon.
Perusahaan juga berkomitmen untuk terus mengoptimalkan produksi energi guna mendukung kebutuhan listrik rumah tangga, sektor industri, maupun aktivitas ekonomi lainnya.
Dengan dukungan pasokan batu bara yang terjaga dan operasional pembangkit yang stabil, PLTU Cirebon optimistis dapat terus menjaga keandalan sistem kelistrikan serta memenuhi kebutuhan energi masyarakat.
Di tengah bayang-bayang isu kelangkaan batu bara nasional, PLTU Cirebon memilih menjawab kekhawatiran dengan kinerja.
Saat sebagian pihak masih mencermati kondisi stok batu bara nasional, dua unit pembangkit raksasa di pesisir timur Cirebon itu tetap bekerja tanpa henti, memastikan lampu tetap menyala dan roda perekonomian terus bergerak.












