Berita  

Bank Indonesia Dukung Petani Kopi Kuningan Mendunia

Like, Kuningan : Hamparan lahan kopi yang kini mencapai 25 hektare di kawasan Desa Puncak Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan Jawa Barat sangat terawat dan terpelihara dengan baik yang menghasilkan beragam jenis kopi yang berkualitas tinggi. Pembudidayaan kopi pun tidak sesingkat yang terbayangkan, melainkan penuh liku perjuangan sejak dimulai tahun 2000 an hingga kini.

Robi Taufik selaku pengelola Kopi Botanika sekaligus Ketua Kelompok Tani Pasir Tengah mengatakan pengembangan kegiatan perkebunan kopi diawali dengan penanaman sekitar 10.000 pohon kopi di lahan seluas 16 hektare. Selain lahan tersebut, kelompok tani juga menjalin kemitraan dengan petani yang mengelola lahan hampir 25 hektare. “ Nah untuk penanaman kopi pertama kita di 10.000 pohon dengan area kita adanya di lahan seluas 16 hektar dan untuk mitra petani kita ini hampir 25 hektar,” ujar Robi kepada wartawan Like Cirebon pada kamis (10/9/2026).

Tercatat dari perkebunan kopi tersebut, saat ini bisa menghasilkan produksi kopi mencapai 20 hingga 25 ton per tahun. “ Nah untuk Jenis kopi yang dikembangkan terdiri atas Arabika dan Robusta yang berkualitas bagus, Sementara jenis Liberika masih dalam tahap pengembangan dan tercatat keseluruhan tanaman, sekitar 70 persen ini didominasi kopi Arabika ya,” ucapnya.

Menurut Robi, kopi Arabika menjadi salah satu produk unggulan karena memiliki karakter rasa yang khas. “ Nah Kopi dari kawasan kami ini cenderung memiliki rasa manis, smooth, serta karakter fruity yang lebih terasa cenderung gaya Arabika,” katanya.

Perkebunan Kopi yang dikenal di area Wisata Botanika ini berada pada ketinggian sekitar 750 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut. “ Nah ini untuk menjaga kualitas biji kopi, proses panen dilakukan dengan memilih buah kopi yang sudah merah, yang bagus dan baik,” paparnya.

Untuk saat ini tandas Robi Pertumbuhan perkebunan kopi turut membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar. “ Nah saat ini hampir 30 petani telah terlibat dalam pengembangan kopi inibyah dan Jumlah petani yang terlibat terus bertambah bang, Pada tahap awal hanya melibatkan sekitar 5 hingga 10 orang dan alhamdulillah tahun ke tahun kita ada peningkatan,” tandasnya.

Robi menilai perkembangan pasar Kopi membuat kopi yang sebelumnya kurang dilirik kini memiliki nilai jual yang lebih tinggi. “Untuk green bean Arabika petik merah, harga yang disebutnya berada di kisaran Rp170 ribu per kilogram, Sementara green bean Robusta berada di kisaran Rp85 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram, untuk Produk yang dipasarkan ke luar negeri mayoritas berupa green bean. Sementara roast bean untuk kebutuhan ekspor masih dalam jumlah terbatas,” katanya.

Perkembangan produksi dan kualitas kopi membuat pasar yang dijangkau semakin luas. Robi menyebut kopi yang dikembangkan kelompoknya telah dibawa ke Thailand dan Jepang. Sementara pasar Amerika Serikat juga mulai terbuka melalui jaringan pemasaran yang dibangun.

Di dalam negeri, pemasaran kopi juga terus berkembang. Robi menyebut produknya kini telah masuk ke hampir seluruh provinsi di Indonesia. Menurutnya, perluasan pasar tersebut tidak terlepas dari pendampingan Bank Indonesia. Dukungan diberikan dari sisi hulu hingga hilir, termasuk penyediaan alat dan bahan pendukung kegiatan perkebunan “ Nah kalau Support dari alat, segala rupa. Alhamdulillah untuk daya dukung dari BI mulai dari hulu ke hilir,” tuturnya.

Sementara itu disela kunjungan ke kawasan Kopi Botanika Kepala Perwakilan Bank Indonesia Cirebon, Wihujeng Ayu Rengganis, mengatakan kopi Kuningan dan Majalengka yang tergabung dalam MPIG Buana Ciremai memiliki potensi besar untuk dikembangkan dan melalui pemberitaan mengenai kopi Buana Ciremai dapat membuat produk tersebut lebih dikenal masyarakat, terutama untuk memperkuat pasar lokal.” Nah kami berharap rekan-rekan media ini nanti yang akan juga menceritakan kepada masyarakat potensi-potensi kopi Kuningan, tidak hanya kopi Kuningan dan Majalengka di MPIG Buana Ciremai yang kualitasnya tidak kalah dengan kopi lainnya,” ujar Ayu.

Menurutnya, kualitas kopi Buana Ciremai juga terlihat dari hasil penilaian cupping score yang berada di atas 80 sehingga masuk kategori specialty coffee. “Cupping score-nya juga tinggi, di atas 80-an. Nah, masuk ke specialty,” katanya.

Wihujeng menambahkan, salah satu produk kopi binaan juga mendapat kesempatan mengikuti World of Coffee di Bangkok. Kesempatan tersebut dinilai penting karena harus bersaing dengan produk kopi dari berbagai daerah di Indonesia.”Pendampingan juga dilakukan melalui kegiatan promosi dan pameran, Produk kopi binaan mendapat kesempatan mengikuti berbagai kegiatan pemasaran, termasuk hingga ke luar negeri. Salah satunya melalui keikutsertaan dalam World of Coffee di Bangkok yang tentu melalui penilaian se antero Indonesia,” ucap ayu.

Ia menilai pencapaian tersebut menjadi indikator kualitas kopi Buana Ciremai yang mampu bersaing dengan produk kopi dari daerah lain. “Ini adalah salah satu indikator bahwa memang kopi kita enggak kaleng-kaleng, enggak kalah dengan produk kopi di daerah lainnya,” papae Ayu.

Sementara itu penikmat Kopi Haries Abdul Qodir wisatawan lokal asal Kalitanjung Kabupaten Cirebon mengatakan bahwa racikan kopi di daerah Botanika Kuningan sangat khas dengan rasanya.”Saya rasa ada bedanya, sayavbiasa kopi hitam pahit dan memang beda dengan kopi daerah lain saat saya berwisata, saya harap ini terus dikembangkan dengan baik yak sehingga industri perkopian dari wilayah Kuningan Jawa barat terus berkembang pesat di nusantara bahkan mendunia,” kata kang haris.

Haris pun berharap UMKM Per Kopian di wilayah Ciayumajakunibg bisa berkembang dengan baik dan melesat bagaikan roket menuju angkasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *